Perpustakaan SMA Negeri 2 Metro

5 Hal Anti Mainstream di Perpustakaan [Part 2]

28 Mei 2016
20:36:08 WIB

Menyambung di postingan sebelumnya, berikut adalah beberapa hal tabu yang bisa diterapkan di perpustakaan untuk menarik minat pemustaka rajin datang ke perpustakaan:

1. Tidak Ada Denda

Sistem denda hanya saya terapkan di tahun pertama bekerja di perpustakaan sekolah. Kenapa tidak dilanjutkan? Karena tanpa disadari, saya bisa melihat perbedaan mana yang rajin berkunjung ke perpustakaan dan mana yang tidak. Yang tidak ke perpustakaan salah satunya adalah karena faktor takut di denda karena sudah lama tidak mengembalikan buku.

Nah, kenapa kita tetap menerapkan sistem denda jika membuat takut pemustakanya untuk datang ke perpustakaan? Dan bagaimana cara mengganti 'hukuman' untuk mendisiplinkan mereka? Tahun kedua, sistem denda diganti menjadi sumbang kamus. Jadi, setiap pemustaka yang lama banget nggak peroanjang buku pelajaran lebih dari lima puluh hari, denda diganti dengan menyumbangkan kamus. Kamusnya nanti berguna buat dibaca pemustaka yang lain.

Daripada menerapkan sistem denda yang penghasilannya recehan yang tidak seberapa itu, lebih baik dialihkan dengan 'hukuman' yang lebih bermanfaat kan? 

2. Tidak Ada Batasan Meminjam

Koleksi perpustakaan sekolah biasanya didominasi buku-buku pelajaran. Kalau ada empat belas pelajaran, kenapa kita harus membatasi mereka hanya boleh meminjam dua buku?

Kalau satu pemustaka meminjam banyak buku, apakah mereka bisa dipercaya. apakah buku-bukunya nanti nggak hilang? Di setiap tahun kelulusan, mereka tidak bisa mengambil ijazah dan SKHU jika belum bebas perpustakaan. Yang artinya mereka harus mengembalikan semua buku perpustakaan sebelum bebas dari sekolah.

Khawatir koleksi perpustakaan habis? Lha, lebih baik di baca daripada hanya jadi pajangan di rak, kan? 

3. Tidak Ada Bayaran Untuk Menjadi Anggota Perpustakaan

Untuk anggaran membuat kartu perpustakaan sekolah tempat saya bekerja, langsung dimasukkan dalam anggaran KOMITE SEKOLAH. Jadi, setiap siswa tidak perlu lagi membayar apa pun ke perpustakaan hanya untuk menjadi anggota perpustakaan. Biasanya tiap ajaran baru, setiap siswa baru akan dimasukkan datanya ke program komputer perpustakaan yang artinya setelah datanya masuk nantinya otomatis mereka mendapatkan kartu perpustakaan dan langsung bisa meminjam koleksi buku yang ada di perpustakaan. Jadi, pihak perpustakaan tidak perlu repot menarik bayaran untuk kartu perpustakaan kepada siswa sebagai pemustaka. Hal ini lebih efektif, karena dengan cara ini semua siswa pasti mendapatkan kartu perpustakaan.

4. Tidak Ada Larangan Untuk Leyeh-leyeh

Di kelas, setiap siswa sudah lelah dengan sistem belajar yang mengharuskan mereka duduk rapi menghadap guru dan papan tulis. Kenapa di perpustakaan tidak dibuat lebih santai dan rileks? Ya, perpustakaan bisa menerapkan duduk lesehan ketika membaca ataupun mengerjakan tugas. Boleh leyeh-leyeh, boleh juga baca sambil tiduran, atau sering juga pada belajar hapalan di sela-sela rak buku. Boleh banget, yang penting bisa menjaga kebersihan.

5. Tidak Ada Larangan Berkreasi

Tanpa disadari, sebenarnya banyak pemustaka yang merupakan siswa dengan potensi di bidang seni. Kenapa tidak memanfaatkn mereka untuk 'mempercantik' perpustakaan? Yang sudah diterapkan di perpustakaan sekolah tempat saya bekerja mulai tahun kedua adalah memajang lukisan-lukisan siswa di dinding perpustakaan dan hasil kreasi daur ulang yang diletakkan di rak kaca khusus. Tahun ini mengajak beberapa siswa untuk membuat doodle agar mempercantik tampilan depan perpustakaan. Dan juga menggantunng books quotes dan beberapa ornamen karya siswa untuk mempercantik ruang dalam perpustakaan.

Ditulis oleh:

Luckty Giyan Sukarno

Pustakawan SMA Negeri 2 Metro

 

Share



0 Komentar

    Form Komentar

    Google Search

    Agenda

    'Sekilas tentang SLIMS dan SLIMS Community Meet Up (SLIMS ...'

    Artikel Terpopuler

    Seperti yang pernah saya jelaskan di tahun sebelumnya, tiga bulan
    Sejujurnya, jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, semangat

    Berita Terpopuler

    Ini adalah SLIMS Meet Up yang keempat. Tahun ini diadakan di
    Alhamdulillah dari 70-an Lapak Baca yang

    Video Terpopuler

    Ada puluhan murid yang diceritakan dalam buku ini. Setiap anak
    Film pendek ini diadaptasi dari novel Time After Time yang ditulis

    twtitter Perpustakaan SMA N 2 Metro

    Banner

    //