Perpustakaan SMA Negeri 2 Metro

ME AND MY LOVELY CLASS

22 Desember 2015
04:55:14 WIB

Aku melangkah, memasuki halaman sekolah setelah membaca spanduk besar bertuliskan SMAN 2 METRO itu, sejak pertama kali melangkahkan kakiku disini hingga sekarang aku hampir keluar dari sekolahku tercinta ini, aku tak pernah melewatkan seharipun tanpa melihat spanduk itu. Rasanya aku mengingat sesuatu di dalam kepalaku. Ya... itu saat aku pertama kali masuk ke sekolah yang akrab dengan sebutan SMANDA ini. Yang aku ingat saat itu adalah aku datang pagi ke sekolah ini dengan setengah hati. Aku sungguh ingin pergi bersekolah yang mungkin bisa sedikit lebih jauh dari rumahku, mencoba hal baru yang belum pernah kurasakan sebelumnya, mencoba lepas dari zona nyamanku, berusaha menjadikan sebuah pengalaman yang akan kuingat selamanya.

Saat itu aku berpikir mungkin aku akan bertemu dengan temanku yang lain, teman yang telah kukenal sebelumnya, dan sejujurnya itu membuatku merasa sedikit lebih lega. Beragam cerita yang kudengar tentang sekolah itu berdatangan silih berganti dalam otakku. Aku sempat bergidik ngeri saat memasuki kelas untuk yang pertama kalinya. Kelas sepuluh PS 1, yang pada akhirnya menjadi tempatku singgah untuk mencari pembelajaran selama kurang lebih satu tahun. Saat itu aku takut, takut jika aku hanya sendiri di kelas itu. Padahal itu tidak mungkin, karna SMANDA adalah sekolah bersama bukan sekolah khusus untukku. Haha.. tidak, sungguh bukan itu maksudku, saat itu aku hanya takut jika aku tak mengenal siapapun di dalam kelas itu, merasa asing dengan situasi dan akhirnya membuatku seperti dibatasi.

Sebenarnya kata yang kuucapkan sebelumnya tentang ‘mencoba lepas dari zona nyamanku’ bukanlah kata yang sungguh-sungguh ingin kulakukan, karna pada dasarnya aku tetap takut, bahkan hanya sekedar melangkah meninggalkan rumah dan pergi seorang diri ke sekolah sering membuatku takut. Kembali pada cerita sebelumnya, bahwa ketakutanku tidaklah terbukti, karna nyatanya beberapa temanku di kelas itu adalah teman sekelasku semasa SMP. Dulu semasa SMP, aku dan beberapa temanku... hanya beberapa karna sebenarnya aku tidak punya banyak teman, kami sering bercerita tentang masa SMA, dulu setiap melihat siswa SMA kami selalu berpikir bahwa menjadi siswa SMA itu berarti akan segera tua. Tapi ternyata, setelah SMA rasanya kami tak merasakan hal seperti itu, kami tidak merasa berkuasa apalagi merasa tua, bahkan kami berpikir bahwa menjadi tua mungkin akan sangat menyusahkan.

Bahkan setelah bersekolah beberapa bulan, aku masih sering bermain dan bergabung dengan teman-teman SMP atau setidaknya orang-orang yang kukenal, dan menutup diri dari orang-orang asing yang berada di kelas yang sama denganku. Saat itu kupikir, mereka bukanlah orang yang mudah untuk didekati. Tetapi lagi-lagi aku salah mereka adalah orang yang terbuka, mereka bahkan bisa dengan mudah didekati. Aku ingat saat suatu hari aku melihat dua orang teman sekelasku yang duduk di bangku tepat di depanku sedang berbincang, mereka terlihat begitu asik, saat itu yang kutau seorang yang duduk di sebelah kiri adalah Babby Adinda Putri dan yang lebih tinggi adalah Windi Septia Utami. Kesan pertamaku terhadap mereka adalah mereka terlihat sombong. Ya, mereka berdua.

Berhari-hari setelahnya aku lebih sering melihat mereka bersama, dan aku tak ingat bagaimana caranya sampai kami menjadi teman. Kami mempunyai kesukaan yang sama terhadap K-Pop. Dulu setauku, semua orang yang menyukai K-Pop setidaknya pasti akan menyukai satu atau lebih sebuah idol groub. Tapi salah satu dari mereka adalah no fandom. Awalnya aku tidak mengerti, tapi setelahnya aku mengerti bahwa dia orang yang netral atau lebih tepatnya dia tidak ingin terikat oleh sebuah fandom yang mungkin akan menyusahkannya. Dan hebatnya lagi.. mereka berdua adalah mantan ELF.. huaaa...  tapi saat itu aku berpikir kata ‘mantan’ adalah kata yang buruk. Karna saat itu aku begitu tergila-gila terhadap Super Junior. Dan sekarang tidak.. maksudku beberapa bulan setelah mengenal mereka lebih dalam, aku tau alasan mereka ‘keluar’ dari fandom itu. Dan akupun juga mulai terbawa mengeluarkan diri dari fandom yang berisi banyak orang-orang sensitif itu.

Kami sering pergi bersama ke perpustakaan, membicarakan hal penting sampai hal konyol yang sama sekali tidak masuk akal. Kami bisa bicara sampai waktu yang tak terhingga. Biasanya kami akan pergi perpustakaan saat tidak ada guru yang masuk ke kelas kami. Saat istirahat sampai kami beberapa kali terlambat masuk ke kelas. Di perpustakaan selain bercerita, kami biasa membaca novel dalam keheningan, atau dengan konyolnya kami merapikan novel yang saat itu di letakkan di ruang AC. Pernah suatu hari saat kami sedang asik bercerita, seseorang dari ruang sebelah menegur kami, dia berteriak dan mengatai bahwa kaos kaki kami bau... kami menganggapnya biasa saja dan kami tak menanggapinya, tapi salah satu dari kami menyimpulkan bahwa kalimat ‘kaos kaki kalian bau’ itu adalah kalimat usiran. Kami sempat berdebat saat itu. Tapi pada akhirnya kami tak menanggapi Windi yang terus mengatakan kalau saat itu kami ‘diusir’ dari sana.

Beberapa kali saat pergi ke perpustakaan, kami diusir.. bukan oleh seseorang dari ruang sebelah, tapi oleh penjaga perpustakaan. Coba tebak siapa?

Saat itu, kalau tidak salah ingat itu adalah hari jum’at. Setiap hari jum’at kami olah raga, dan itu adalah pelajaran terakhir, dan kalau tidak salah ingat juga, kami hanya olah raga setiap kali akan berenang. Jadi jika tidak akan berenang kami tidak akan berolah raga atau mendapatkan waktu untuk olah raga. Jadi kami habiskan waktu kami untuk membaca buku di perpustakaan. Entah apa yang saat itu kami bicarakan, yang jelas itu pasti hal yang menarik. Mungkin tentang cerita horror, fanfiction, history bookor maybe a novel. Aku tidak terlalu ingat. Saat itu kami sudah berapa jam kami disana, berdiam diri di ruang AC sambil bercerita, saat itu tiba-tiba bu Wulan menegur kami, dengan suara khasnya.. dia berkata sambil melongok kami yang sedang duduk di sisi dinding ‘kamu orang mau pulang enggak?’ tanyanya. Kami yang saat itu tak tau kalau hari sudah mulai sorepun hanya bertanya dengan bodohnya. ‘emang kenapa bu?’ dan bu Wulan yang saat itu menjaga perpustakaan seorang diri langsung membuka pintu lebar-lebar dan mendekati kami. ‘perpusnya mau ibu tutup’ katanya ‘ lah emangnya udah waktunya pulang bu?’ tanya salah satu dari kami. ‘loh orang udah sepi nih’ dan saat itulah kami sadar bahwa kami sudah terlalu lama berdiam diri di perpustakaan.

Masih banyak sekali hal-hal lucu dan konyol atau mungkin hal penting yang kami lakukan. Kami bisa pulang sore sekali dan hanya ada beberapa orang yang masih tinggal di sekolah untuk melakukan kegiatan mereka, biasanya kami akan berdiskusi tentang beberapa pelajaran yang tidak kami mengerti dan tidak jarang hal itu membuat kami berdebat.

Dari yang awalnya tidak kami sadari, hingga kami lupa terhadap hal yang telah dengan susah payah kami sadari, kami menjadi lebih dekat, bercerita membuat kami mengerti. Dan aku belajar banyak dari mereka bahwa ada hal yang jauh lebih berharga dari sebuah nilai yang bagus, jauh lebih berharga dari sebuah pujian karna nilai yang bagus, dari sebuah kebanggaan karna nilai yang bagus yaitu kejujuran. Dan menemukan teman seperti Babby dan Windi adalah sebuah keberuntungan untukku.

Namun... setelah kami naik ke kelas sebelas, kami mulai jarang bertemu meski kelas kami hanya dipisahkan oleh satu kelas, kami mulai jarang bercerita, kami mulai jarang pergi ke perpustakaan bersama. Awalnya aku tak menyukai kelasku saat itu, kelas XI PS 2. Mereka terlalu berisik, juga terlalu diam. Aku hanya duduk sendiri dan....aku bingung. Aku takut jika aku tak mampu mengerjakan tugas-tugasku. Bagaimana kalau aku tak mengerti dengan perkataan guru saatsedang mengajar? Karna ternyata aku terlalu bergantung pada mereka berdua, aku terlalu malas untuk mendengar perkataan guru dan lebih sering menanyakan apapun yang guru jelaskan kepada mereka berdua. Dan saat itu aku harus mengerjakan semuanya sendiri, aku harus berdiri sendiri tanpa ada siapapun yang menemaniku. Memikirkannya saja sudah membuatku ingin muntah. Mengesalkan.

Namun... aku merasakan kelas itu mulai hidup, kelas itu mulai menarik, kelas itu mulai berwarna. Kami sering melakukan semuanya bersama, Ya.. kami.. aku dan teman-teman baruku di kelas XI PS 2. Karna merasa terlalu asik dengan mereka aku bahkan melupakan kedua temanku itu, aku mulai terbiasa mengerjakan semuanya sendiri, mulai terbiasa melakukannya tanpa bantuan mereka.

Di kelas itu, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan semasa SMA, yaitu kemenangan. Saat beberapa kali kami memenangkan kompetisi kelas yang diadakan oleh sekolah, saat itu juga kami mulai pergi bersama ke suatu tempat untuk merayakan kemenangan kami.

Di kelas itu aku merasa dibimbing untuk bertanggung jawab atas tugasku. Atas tanggung jawab yang dibebankan padaku. Pernah suatu hari, saat kami sedang mengerjakan tugas kelompok, aku duduk di bangkuku dan ketua kelas kami duduk di sampingku. Entah apa yang saat itu dia katakan.. tapi setelah dia selesai dengan kalimatnya aku menodongnya dengan pensil dan pena, dan tanpa sengaja ujung pena dan pensilku mengenai matanya.. untungnya ketua kelas kami saat itu bukanlah orang yang mudah berteriak. Dia hanya diam dengan mata kiri yang memerah dan berair sambil memelototiku. Dan beberapa hari setelahnya aku ‘menyicil’ memberinya Beng-beng sebanyak delapan bungkus. Dan tanpa kusadari, aku sedang di bimbing untuk bertanggung jawab saat itu.

Dan di kelas itu aku juga merasa bisa... bisa gila. Aku, wakil ketua kelas dan beberapa temanku sering dengan bodoh dan konyolnya mengganggu teman-teman kami yang sedang sibuk bercerita dengan temannya yang lain dengan nyanyian ‘merdu’ kami. Aku memegang piala yang saat itu menjadi hadiah atas kemenangan kami sebagai kamera yang sedang menyorot dua temanku yang lain. Yang satu wakil ketua kelas kami.. dia seorang wanita, dan satu temanku yang lain. Mereka menyanyikan lagu yang tidak jelas sambil memegang botol dengan pasir sebagai isinya.

Di kelas itu aku mulai mengerti, aku harus lebih terbuka terhadap lingkungan di sekitarku, aku harus mulai berjalan dan berdiri sendiri, aku harus mulai belajar menghargai pendapat mereka sebagai temanku, aku harus mulai berlajar bertanggung jawab atas tugas-tugasku. Dan di kelas itu aku mengerti bahwa hal lain yang jauh lebih berharga dari sebuah nilai bagus adalah persahabatan.

Kami harus terus melengkah dan membiarkan masa lalu kami berdiam diri di tempat yang seharusnya. Bersama teman-teman aku menyadari bahwa aku membutuhkan mereka sebagai partner.. aku membutuhkan mereka sebagai tempat bersandar. Mereka yang telah mengajarkan aku tentang banyak hal.. mereka yang mengajariku untuk tertawa dan gila bersama. Banyak hal yang terjadi saat kami masih bersama. Bahkan ribuan lembar kertas tak akan mampu menampungnya.

Dan aku bersyukur, saat pada akhirnya aku tetap memilih SMANDA sebagai tempatku menuntut ilmu setelah SMP, aku bersyukur karna dengan aku bersekolah di SMANDA aku mendapat banyak hal yang tak pernah kusangk sebelumnya. Aku bersyukur karna meski dengan setengah hati ak melangkah ke sekolah ini saat pertama kali, karna pada akhirnya sekolah inilah yang menyatukanku dengan teman-temanku. Teman-teman yang mengajariku tentang banyak hal.....

Jika ditanya siapa teman terbaikku maka aku akan menjawab Babby dan Windi.

Jika ditanya kelas mana yang terbaik maka aku akan menjawab kelas XI PS 2.

Dan satu lagi... aku bersyukur karna aku adalah salah satu yang terpilih dari ribuan orang yang mendaftar di sekolah kebanggaanku. Aku adalah satu dari ratuasan orag yang beruntung bersekolah di tempat yang penuh keajaiban seperti SMANDA.

Aku yakin bahkan hingga beberapa tahun ke depan nama SMANDA akan terus melekat padaku, Aku adalah salah satu dari ratusan orang yang beruntung.

Ucapan terimakasih....

Untuk yang tersayang alumni kelas kelas 10 PS 1, dan alumni kelas 11 PS 2. Terimakasih untuk Meyka Fitria Ningrum atas dukungannya. Terimakasih untuk Dewi Nuri Hayati, untuk ketua kelas kami Raga Karunia Ramadhan, untuk Ajjushiku Noval Adi Saputra dan untuk semua teman-teman yang tak bisa disebutkan satu persatu.

#hahaha.. ngalay

Author : Ferdina Anggaraini

Share



0 Komentar

    Form Komentar

    Google Search

    Agenda

    'Sekilas tentang SLIMS dan SLIMS Community Meet Up (SLIMS ...'

    Artikel Terpopuler

    Seperti yang pernah saya jelaskan di tahun sebelumnya, tiga bulan
    Sejujurnya, jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, semangat

    Berita Terpopuler

    Ini adalah SLIMS Meet Up yang keempat. Tahun ini diadakan di
    Alhamdulillah dari 70-an Lapak Baca yang

    Video Terpopuler

    Film pendek ini diadaptasi dari novel Time After Time yang ditulis
    Ada puluhan murid yang diceritakan dalam buku ini. Setiap anak

    twtitter Perpustakaan SMA N 2 Metro

    Banner

    //