Perpustakaan SMA Negeri 2 Metro

[Menulis Sinopsis] MIRACLE OF 7 DANDELION

22 Desember 2015
04:42:00 WIB

Scene 1: Dandelion. Salah satu tanaman yang termasuk dalam kelompok Gulma. Sangat mengganggu, dan bagi sebagian orang, tanaman itu cukup merugikan. Layaknya Dendalion yang akan hilang diterpa angin, sekumpulan murid dalam sekolah bernama Tuna Bangsa itu juga dianggap sebagai pengganggu. Mereka yang berada pada tingkatan bawah dalam bidang akademik, bahkan selalu bersikap pasif terhadap semua kegiatan sekolah yang ada. Itulah mengapa mereka sering disebut Dandelion.

 

Di jam−jam istirahat, ketika banyak orang pergi menuju kantin untuk mengisi perut, para anggota

Dandelion lebih memilih untuk menetap dalam kelas dengan kesibukan masing−masing.

 

Ara           : (Curhat ke Vinka dengan nada suara yang cukup keras).

Dilla         : (Tengah mendengarkan lagu melalui perangkat headsetnya sembari bernyanyi). Hey, Ara! Diamlah, aku sedang mendengarkan lagu.

Ara           : Aku ini sedang curhat. Dan kau tahu? Curhatanku itu sangat penting. Lebih penting dari lagu yang kau dengarkan, bahkan jauh lebih penting dari nyanyianmu.

Dilla         : Tapi curhatanmu itu menggangguku! Setidaknya, nyanyianku lebih merdu, kan?.

Ara           : Jadi maksudmu suaraku jelek?. Lalu kenapa jika suara jelek, huh?. Kau—

Lily          : Hey, tenanglah. Jangan membuat keributan di kelas!. Memangnya kalian pikir jika kalian bertengkar, itu akan menyelesaikan masalah?. Tidak, kan?. Kalian itu teman, jadi tidak seharusnya—

Dilla dan Ara : (Menyeru pada Lily) Diam!!

 

Dio           : (Dengan santainya, memainkan gitar tanpa memperdulikan teman−temannya). Kenapa ya, tiba−tiba aku berharap bisa menjadi seorang dokter.

(Dandelion terkejut mendengar pernyataan yang baru saja dilontarkan oleh Dio. Mereka menatap Dio dengan pandangan datar lalu kembali pada aktivitasnya masing−masing)

Vinka       : Kau bahkan tidak tahu cara menggunakan stetoskop, bagaimana mungkin bisa menjadi dokter?.

Dio           : Oh iya, kau benar juga. Kalau begitu, aku lebih baik menjadi bos dokter saja.

Ara           : Maksudmu direktur?. Memangnya kau bisa memimpin orang−orang di rumah sakit?.

Agus        : Memimpin kumpulan ayam untuk kembali ke kandang saja kau tidak bisa.

Dio           : Hmm, iya ya, kau benar, Gus. Kalau begitu, aku akan menjadi presdir yang tugasnya hanya memerintah saja.

Dilla         : Memangnya kau tahu alat apa saja yang harus kau beli untuk keperluan rumah sakit?.

Dio           : Tidak sih. Lalu, apa aku harus menjadi pemilik saham rumah sakit saja?.

Lily          : Kau tidak pandai berhitung, dan nilai ekonomimu juga sangat buruk.

Dio           : (Terlihat frustasi). Astaga! Lalu aku harus menjadi apa?.

Kyla         : Salah satu peran penting dalam perintisan rumah sakit.

Ara           : Maksudmu pencetusnya?

Kyla         : Bukan (Menggeleng santai sembari tetap sibuk membuat tsuru).

Dandelion       : Lalu?

Agus        : Kuli Bangunan rumah sakit.

(Dandelion terdiam. Mereka sontak menghentikan aktivitas masing−masing untuk menoleh pada Agus yang juga sibuk membuat tsuru. Beberapa menit terdiam, mereka kemudian tertawa, sedangkan Dio hanya diam tak mengerti)

 

Pak Dar    : Itu bukan doa yang baik dari seorang teman, Agus. (Berjalan mendekati Dandelion seraya membawa beberapa lembar kertas di tangan kanannya).

Agus        : Tapi aku tidak sedang berdoa, pak.

Pak Dar    : Ucapan adalah doa.

Lily          : Pak Darmawan benar, Agus. Sebagai seorang teman, kita tidak semestinya bicara seperti itu. Walau Dio tidak menjadi presdir ataupun dokter, tapi pilihan untuk menjadi kuli bangunan bukanlah saran yang baik. Kau mungkin saja akan menyakiti hatinya.

Dandelion       : Hallah... (Terlihat malas mendengarkan celotehan Lily).

Agus        : Lebih baik kau kirim saja pesanmu itu lewat email, Ly. Terlalu panjang.

Pak Dar    : Tapi Lily benar. Kalian kan teman, jadi kalian haru saling dukung. (Membagikan kertas ke anggota Dandelion). Kalian pasti tidak terkejut dengan nilai kalian, kan?. Perasaan kecewa pun sudah menjadi rutinitas bapak setiap melihat nilai kalian. Hanya Vinka yang nilainya luar biasa besar.

Kyla         : Itu takdir yang baik untuk Vinka.

Dilla         : Dan bukan nasib yang baik untuk kami.

Pak Dar    : Bukan berarti kalian tidak bisa merubah nasib kalian sendiri. Memangnya kalian tidak lelah selalu disebut gulma, hmm?. Berubahlah, Dandelion.

Agus        : Memangnya kita power ranger?.

Pak Dar    : Bapak tidak sedang bercanda, Agus.

Agus        : Saya juga tidak sedang bercanda, pak Dar.

Pak Dar    : Bapak serius.

Agus        : Saya apalagi.

Pak Dar    : (Menghela nafas berat). Dandelion... Dandelion, gulma itu bukan sebutan yang baik. Seharusnya tidak ada yang terima disebut seperti itu. Bapak yakin, jika kalian mau berusaha, kalian pasti bisa menghilangkan nama gulma itu. Dapatkanlah nilai yang baik.

Ara           : Berubah itu tidak semudah mengupas kulit jeruk, pak.

Dio           : Power ranger saja berubahnya bukan dengan cara mengupas buah jeruk, pak.

Pak Dar    : Mungkin memang tidak mudah, tapi selama ini kalian tidak berusaha secara maksimal. Apa kalian tidak sadar bahwa nilai itu sangat penting?. Setidaknya cobalah untuk perbanyak waktu belajar dan membaca, kalian pasti akan mendapat perubahan. Hidup yang baik itu kan pilihan kalian sendiri.

Kyla         : Jangan menunggu sapi yang bertelur, pak. Mustahil kan?.

Lily          : Kami tahu Pak Dar sangat perduli pada kami, tapi cobalah untuk tidak menaruh perhatian yang begitu tinggi. Mungkin itu akan membuat bapak semakin kecewa.

Pak Dar    : Ya, bapak memang perduli dengan kalian, dan bapak ingin sekali membantu kalian. Lagipula, harapan adalah hak setiap orang, kan?.

Vinka       : Tapi, pak...

Pak Dar    : Iya?.

Vinka       : Aku sedikit penasaran. Ketika kebanyakan guru di sekolah ini merasa lelah dengan kami, kenapa pak Dar justru begitu semangat untuk membantu kami?.

Pak Dar    : Pak Dar ingin kalian berubah. Dan bapak bukanlah guru yang ingin membuat anak pintar menjadi lebih pintar lagi, tapi bapak ingin menjadi guru yang bisa membimbing anak di kelas bawah, menjadi anak di tingkat atas.

Dilla         : Guru−guru disini tidak terlalu perduli kami. Mereka hanya memihak pada murid yang mereka sukai.

Pak Dar    : Tentu tidak seperti itu. Guru berjuang sangat keras untuk merubah kalian, tapi mungkin rintangannya terlalu susah. Jika memang mereka tidak perduli, kenapa mereka bersedia mempertahankan kalian disini?.

Agus        : Tapi mereka memang tidak memandang kami. Perlakuan mereka berbeda.

Pak Dar    : Kalian terganggu?. Kalau begitu tarik perhatian mereka dengan kemampuan kalian. (Pak Dar kemudian pergi meninggalkan ruang kelas).

 

Scene 2     : Taman adalah salah satu tempat favorit para anggota Dandelion berkumpul. Rasanya amat nyaman dengan puluhan bunga yang tumbuh indah, rerumputan yang tampak sangat hijau, serta pepohonan rimbun yang memberikan kesan sejuk. Di taman sekolah Tuna Bangsa itu lah kini Dandelion berada, menikmati siang mereka dengan beberapa makanan kecil.

 

Vinka       : (Menjauhkan buku dari pandangannya dan menatap lurus kosong ke depan). Teman−teman..

Dandelion : (Masih sibuk dengan tsuru yang mereka buat). Hmm?

Vinka       : Tidakkah ucapan pak Dar minggu kemarin itu benar?. Kita tidak bisa selamanya menjadi gulma.

Kyla         : Tapi aku tidak merasa berdosa untuk itu.

Ara           :Vin, guruguru itu tidak memperdulikan kita, lalu kenapa kita harus mempermasalahkannya?.

Vinka       : Apa kalian tidak sadar, semua yang kita lakukan sekarang, pasti akan sangat berpengaruh di kehidupan kita nanti. Termasuk nilai.

Dilla         : Nilai bukan segalanya, Vin

Vinka       : Tapi terimalah, nilai menjadi masalah besar dalam hidup kita sekarang.

Dio           : Setidaknya, aku akan tetap bermain musik.

Vinka       : Tidak perduli dengan hobi kalian atau apapun itu, akhir dari kehidupan kita di sekolah ini nantinya akan bergantung pada nilai. Selama ini kita selalu disebut gulma, orang−orang tidak berguna, payah dan lainnya.  Ayolah, kita tentu tidak ingin terus disebut gulma.

Dilla         : Kita? Atau kami?

Vinka       : Apa? (Agak terkejut dengan pertanyaan Dilla).

Dilla         : Kau terus−terusan bilang bahwa gulma itu buruk. Tapi apa kau tidak melihat kenyataannya?. Kau bukanlah satu diantara gulma−gulma itu, Vin. Diantara kita semua, hanya kau yang mereka akui, hanya kau yang selalu mendapat tempat terbaik.

Kyla         : Dilla, maksudmu itu apa?

Dilla         : Vinka bisa bicara semudah itu karena dia memang pintar. Baginya mendapat nilai yang besar adalah hal mudah, tapi tidak dengan kita. Bukankah kalian juga sadar, kita ini seperti gulma yang mengelilingi pecahan berlian. Dan berlian itu Vinka!.

Vinka       : Maksudku bukan seperti itu.

Ara           : Dila, kenapa nada suaramu meninggi?. Tenanglah.

Dilla         : Tapi Vinka selalu bicara bahwa gulma itu memang buruk. Dia bukan gulma, jadi apa maksudnya?. Bukankah itu berarti dia mencemooh kita?!!.

Ara           : Dilla! Vinka tidak mungkin berpikir seperti itu.

Agus        : Hey, Dilla, kau tenanglah. Kenapa jadi marah−marah seperti itu?.

Lily          : Vinka tidak mungkin berpikir seburuk itu, Dilla. Dia itu teman kita.

Dilla         : (Terdiam sejenak dan mulai berpikir. Setelah beberapa menit tanpa suara, ia mulai mengatur nafasnya yang tersengal, dan mencoba menghapus segala emosinya). Maaf. Aku terlalu sensitive, dan aku terbawa emosi. Maafkan aku.

Vinka       : Aku hanya ingin kita bisa sukses bersama. Sekalipun nilaiku setinggi langit, tapi jika kalian berbeda denganku, rasanya tetap akan menyedihkan. Kumohon, ayo kita bekerja keras untuk mendapat nilai yang lebih baik.

(Dandelion tampak berpikir dalam diam)

 

Agus        : Baiklah (Terlihat sangat bersemangat). Aku juga sangat lelah dengan semua ini. Kalau begitu, mari kita lakukan.

Kyla         : Kau serius, gus?.

Vinka       : Kau tidak bercanda?

Agus        : Tentu.

Ara           : Baiklah! Mari kita berubah!

Lily          : Aku setuju. Ayo berubah!

Dio           : Berubah?? (Kaget sampai tsuru yang dibuatnya terjatuh). Tapi aku tidak memiliki kostum untuk berubah.

Dandelion : Dio!!

 

Scene: Sejak dua minggu lalu, Dandelion terus bekerja keras untuk belajar demi mendapat nilai yang jauh lebih baik. Setiap pulang sekolah, mereka akan kerja kelompok, ketika ada waktu senggang di sekolah, mereka juga akan mulai belajar. Kini rasanya tidak ada waktu yang terbuang percuma, bahkan hanya untuk sekedar mendengarkan Dio memetik gitarnya, atau mendengar Dilla melantunkan suara merdunya.

 

Seperti hari−hari sebelumnya dimana waktu sangat bermanfaat, kini Dandelion terlihat tengah belajar DIrumah Ara. Ketika sang guru, yaitu Vinka, tengah sibuk menyiapkan minuman dan makanan bersama Ara di dapur, anggota Dandelion yang lainnya menyempatkan diri untuk merenggangkan tubuh yang terasa agak pegal.

 

Dilla         : Oh iya! Agus, aku minta beberapa film baru yang kau download kemarin dong.

Agus        : Aku sudah menghapus semuanya.

Dilla         : Apa?. Semudah itu kau menghapusnya?. Kau bahkan menghabiskan banyak kuota untuk mendownloadnya, lalu kenapa dihapus?.

Agus        : Aku tidak suka. Memangnya salahku jika aku tidak menyukainya?. Salahkan sang produser karena membuat film tanpa saran dariku.

Lily          : Apa tidak sayang jika dihapus?

Agus        : Aku lebih sayang pada ibu bapakku.

Dio           : Bohong! (Menunjuk Agus dengan semangat yang berapi−api). Dua hari yang lalu kau bilang padaku kalau kau sangat menyayangi ikan peliharaanmu.

Kyla        

Share



0 Komentar

    Form Komentar

    Google Search

    Agenda

    'Sekilas tentang SLIMS dan SLIMS Community Meet Up (SLIMS ...'

    Artikel Terpopuler

    Seperti yang pernah saya jelaskan di tahun sebelumnya, tiga bulan
    Sejujurnya, jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, semangat

    Berita Terpopuler

    Ini adalah SLIMS Meet Up yang keempat. Tahun ini diadakan di
    Alhamdulillah dari 70-an Lapak Baca yang

    Video Terpopuler

    Film pendek ini diadaptasi dari novel Time After Time yang ditulis
    Ada puluhan murid yang diceritakan dalam buku ini. Setiap anak

    twtitter Perpustakaan SMA N 2 Metro

    Banner

    //